• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise

Subscribe

facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

DIMZY DAILY

DIMAS YUGIAS SAPUTRA OFFICIAL BLOG

 



Wahai orang-orang yang lagi banyak beban hidup, mari kumpul sejenak dan kita list keinginan destinasi kita untuk self healing. By the way, kalau denger kata healing satu hal di otak aku adalah ketika kita lagi melepas lelah kerjaan atau tugas kuliah/sekolah untuk pergi sendirian ke alam atau ke hidden gem. Tapi benarkah sesimple itu, sudah kah kita bener-bener 'healing"?

Karena dilandasin diri yang masih manusia, artinya masih bisa merasakan lelah dan stress. Akupun tergerak untuk melakukan berbagai hal yang dishare orang-orang di tiktok seputar self healing. Kenapa tiktok karena memang manusia di sana kalau bikin konten memang sevariatif itu, sesimple konten makanan deh mulai dari :

'INI NIH YANG BIASA ANAK JAKSEL KUNJUNGI KETIKA LAGI LAPER" lalu

'HIDDEN GEM RESTORAN SUSHI YANG NGGAK KAYAK RESTORAN DI DAERAH PIK" ada juga

'NGGAK NYESEL BUNCIT KARENA MAKAN MIE VIRAL YANG SATU INI". 

Karena dasarannya saya ini orang yang kepo biasanya aku kunjungin tuh semua tempat makan cuman karena penasaran. Dan pada akhirnya saya buncit beneran dan malah jadi nyesel. Dasar influencher pembohong.

Atas dasar rasa penasaran yang sama akupun banyak mengunjungi tempat self healing berdasarkan rekomendasi tiktok. Mulai dari main ke alam sampai nongkrong di pusat anak circle-circle'an macem Blok-M. Dan hasilnya? nggak ada hasilnya sih. Masih mikirin kerjaan, masih mikirin pencapaian-pencapaian yang belum kesampaian, masih mikirin mantan (yang ini tolong diskip aja)

Setelah dipikir-pikir ternyata memang bukan tempatnya yang salah. Tempatnya memang didesain untuk manusia healing. Kitanya aja yang belum siap buat healing. Kok bisa mau berangkat healing aja nggak siap? dari aku sendiri kebiasaan pas mau jalan-jalan adalah memaksaan diri pas lagi capek-capeknya atau ketika dulu waktu abis putus hubungan langsung dipaksain buat pergi jalan-jalan berharap sembuh. Dan ya hasilnya nggak sesimple itu, yang ada waktu yang kita gunain buat jalan-jalan malah kebanyakan diisi dengan memikirkan dengan urusan yang belum kelar. Nggak heran sih pulang-pulang kayak sama capeknya.

Sebenernya yang kita butuhin sebelum healing adalah istirahat. Luangin waktu sejenak buat ngerenung dan memotivasi diri sendiri at least ngeyakinin diri buat keadaan akan normal lagi aja. Beban kerjaan akan ada lagi tapi berpikir positif kalau setelah melewati itu akan selalu ada weekend buat main sama temen-temen, yang lagi putus cinta beripikir positif aja akan selalu ada orang yang kita temukan dan orang tersebut adalah definisi 'tepat".

Buat bonus, tulisan ini dibuat atas motivasi diri untuk sharing. Tapi tenang aku tidak akan seperti influencher nyebelin yang kusebutin di atas. Tempat asik yang lagi aku kunjungin saat ini adalah Pantai Maju PIK 1 Jakarta Utara, sebagian dari kalian yang tau pantai ini mungkin berpikir ini pantai nggak kayak pantai. Emang bener banget sih, tapi coba deh kalian kesini saat jam 5 sore, bawa earphone atau TWS kalian, dan putar musik paling sendu yang kalian punya, maka tempat ini bagaikan panggung pertunjukan orchestra untuk 1 jam kedepan (yakali maghrib-maghrib kagak kepikiran buat balik). Ada 2 pemandangan yang bikin musik kalian hidup, pemandangan laut lepas dengan awan gelap disupport oleh angin sejuk lalu pemandangan langit senja dari arah bersebrangan (seperti di foto atas).

Satu yang pasti, sebelum ke sini siapin diri dulu buat healing. Kalau udah siap, yuk list agenda destinasi selanjutnya!

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

 

    Pada akhirnya paham kenapa di setiap momen di film pas udah masuk bagian deep scenes selalu ada backround music yang mengiringi. Buat yang hobi nonton K-Drama pasti udah hafal part yang satu ini, ngaku deh pasti di playlist Spotify kalian ada soundtrack Drakor ataupun soundtrack Film favourite kalian. Karena pada realitanya kita selalu ada playlist untuk setiap momen perjalanan hidup kita. Mulai dari momen saat kita bahagia banget sampai saat kita sedih banget pasti ada lagu yang pernah kita puter pas momen tersebut. Dan ajaibnya suatu saat kita puter lagi di masa depan akan membuat kita flashback lagi ke momen tersebut.

    Ini yang mau aku bahas, mengutip dari salah satu judul Drakor yaitu Hospital Playlist, kayaknya asik deh kalau kita spill Our Life's Playlist. Pertama dari aku dulu.

    Pagi ini di hari Minggu aku baru aja muter full lagu dari Cigarettes After S*x, lalu memori yang muncul adalah momen di mana aku lagi ngobrol asik bareng temen kantor pertama aku di Semarang, kebetulan 2 di antara mereka anaknya Skena parah yang tiap hari obrolannya nggak jauh-jauh dari musisi-musisi underground yang aku sama sekali nggak ngerti, ujung-ujungnya sewaktu diajak nyanyi bareng cuman bisa hah heh hoh doang, tampak visualnya kayak Rapper bisu yang lagi viral. Tapi asiknya lewat mereka jadi menambah banget pengetahuan aku sama skena permusikan bawah tanah. Asli sih aku beneran se-asing itu sama genre musik anti mainstream atau biasa kita bilang Indie Musician. Ya salah satunya CAS tadi yang aku baru tau dari mereka berdua. Seneng banget muter lagu ini lagi dan inget kalau kita pernah nongkrong bareng.

    Selain music indie total aku sebenernya  terbuka banget sama genre apa aja, even genre yang aku nggak terlalu masuk (bukan nggak suka loh ya) yaitu dangdut. Beda sih kalau  urusannya buat flashback. Aku sewaktu udah pindah ke Jakarta dan cukup lama ngantor di daerah Selatan satu yang aku kangenin adalah kampung halaman di Semarang, jadi playlist yang bikin aku kayak di lempar ke kampung halaman adalah playlistnya Denny Caknan. Aneh bisa dibilang karena waktu tinggal di Semarang aku nggak pernah muter lagu ini, cuman ngedengerin dari temen-temen yang biasa muter. Eh pas sekarang udah jauh dari mereka dan muter lagu ini sendirian atau pun bareng temen kantor baru di Jakarta rasanya kayak 'Si Paling Hafal" lagunya Denny Caknan, tiba-tiba jiwa Jawir Pride memberontak. Sama kayak yang sebelumnya, aku beneran berasa lagi di rumah karena ini lagu yang biasa aku denger dari orang-orang rumah dan temen-temen di kampung halaman.

    Ini merupakan suatu healing tersendiri sih, mungkin juga dari kalian juga pernah melakukan hal yang sama. Sesimpel kalian muter lagu Music Storygram dengan fitur lirik itu sebenernya bagian yang aku maksud juga. Momen di mana kalian di kantin sekolah, momen di mana kalian baru nembak gebetan, momen di mana kalian jalan-jalan bareng keluarga, momen kalian sedih abis putus cinta, momen kalian masuk ke lingkungan baru entah itu kantor atau sekolah baru, momen kalian lagi ngerantau dan nggak bisa mudik. Di saat momen-momen tersebut kalian muter suatu lagu, percaya deh di suatu waktu kalian pengen inget masa-masa itu lagi puter lah lagu tersebut karena yang terjadi adalah kalian nggak cuman dengerin musik tapi lebih ke wisata masa lalu.

    Coba deh tulis playlist kalian di kolom komentar, dan ceritain juga dong momen apa yang berharga banget bersamaan saat kalian muter lagu tersebut.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

    

Oke sebelum kalian berpikir ini blog tentang kuliner aku kasih disclaimer dulu kalau ini bukan bahas masak memasak. Masakan terakhir yang aku masak adalah telur fuyunghai dan itu berakhir menjadi telur papeda karena terlalu lengket dan bisa dibilang gagal, nggak mungkin aku bahas masak memasak di sini.

Yang aku bahas kali ini adalah sosok yang menjadi part of happiness kita dalam hidup. Aku sendiri kepikiran topik ini ketika sedang lari sendirian di GBK Senayan, sebagai perantauan yang belum punya banyak teman aku kebanyakan menghabiskan semua kegiatan duniawi sendirian tanpa pernah mengajak orang yang aku kenal di sini. Bukan nggak mau ditemenin, cuman I just feeling okay to be alone, kayak nggak ada rasa sedih banget karena kesepian malah berasa quality time dengan diri sendiri yang pada akhirnya ngebawa energi positif baru.

Bicara hambar, kalau dianalogikan dalam kehidupan mungkin bisa disamakan dengan 'What's kind of person that bring you happiness in your life" kali ya. Kita semua adalah sebuah hidangan tanpa bumbu, dan yang bikin kita sedap sebagai sebuah hidangan adalah sesosok orang dalam hidup kita. Aku sendiri nggak ada sosok spesifik, mungkin sebagian kita kalau ditanya hal demikian akan menjawabnya  pasangan, entah itu pacar atau istri/suami. Menurut aku sosok siapa yang membawa kebahagiaan pada hidup kita adalah orang yang saat ini terdekat di kehidupan kita, bukan tentang siapa orang itu. Bisa aja teman, bisa pasangan, bisa guru/mentor, bisa orang tua.

Seiring waktu juga orang terdekat kita saat ini pasti juga akan ada yang datang dan pergi. Yang punya pasangan bisa menjadi mantan dan menemukan sosok yang baru, yang temen bisa pergi karena mereka ingin mengejar impian mereka atau kita yang meninggalkan mereka lalu kita bertemu teman yang baru, yang keluarga juga seiring kita bertambah umur pasti akan berpisah karena si anak yang ingin membangun keluarga masing-masing. Semua pada akhirnya datang dan pergi memberikan happiness (bumbu) untuk hidup kita yang hambar.

Aku sepakat bahwa hidup bukan soal aku sendiri, ketika aku melihat orang terdekat bahagia itu juga bagian kebahagiaan aku juga. Sementara itu yang jadi bumbu dan jawaban dari pertanyaan siapa sih sosok yang bikin kamu bahagia? nggak ada.

Ketika aku masih bisa jalan-jalan dengan temen kantor, bercanda bareng, main bareng, berdiskusi tentang kehidupan. Atau saling bertukar kabar dengan keluarga nun jauh di sana, bahkan ngobrol dengan orang baru entah itu rekan bisnis, tukang bubur, abang ojol, security, temen-temen subscriber Windah Basurdara, Kpopers garis keras atau siapapun itu yang saat ini deket sama kita bagi aku adalah part yang bikin hari kita bahagia saat ini.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

 

(*gambar hanya ilustrasi, bukan sepeda saya)

Apa enaknya aku jual aja ya? capek sih, tapi seru.

Oke. Buat kalian yang hobinya besepeda, sini ngumpul. Bisa nggak jelasin ke aku kenapa keluyuran kesana kemarin ngayuh pedal bisa senagih itu? katakanlah kalian dari pinggiran Jakarta, pengen ke Block-M atau Senayan buat jalan-jalan, kan bisa naik motor atau naik angkot. Kenapa nyusahin diri naik sepeda sih? kan aku yang nontonin a day in my life kalian di tiktok jadi kepengen.

Bisa dibilang ini udah menjadi hal yang baru tapi aku paksain buat terbiasa sih, yaitu Bike To Work. Yups, ke kantor dengan besepeda. Emang seru? ya seru sih ya. Sekedar melihat aktifitas orang di pagi hari ternyata bisa bikin kita happy juga.  Hal yang nggak pernah aku lihat kalau lagi naik motor karena entah kenapa bawaannya pengen buru-buru, apalagi kalo naik KRL. Cobain deh sekali-kali, ngayuh pelan-pelan dan iseng aja liat kanan kiri, anak-anak berangkat sekolah, ibu-ibu bawa belanjaan dari pasar,  penjual bubur ayam sibuk banyak orderan. Healing banget beneran asli ngerasain vibes tersebut, walaupun endingnya stress juga sampai kantor.

Tapi dari semua itu part paling seru adalah... modifikasi!

Entah udah berapa kali sepeda udah aku modif. Entah dari stang yang aku bikin drop bar karena pengen kenceng, ban aku bikin tipis biar makin ngacir, sadel aku bikin nyaman lagi. Dari harga semula yang sangat-sangat murahan ujung-ujungnya lebih boros dan boncos di modifikasi. Tapi it's okey banget, siapa tau bisa buat ngonten wara-wiri a day in my life. Kalo ada temennya sih.

Gowes lah yuk.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

 

  Baru 4 kunci ukulele aku kuasai tapi entah kenapa berasa pengen manggung ke soundrenalin. Oke sebelum kalian pengen nabok, aku jelasin dulu kenapa tiba-tiba kepikiran hal tersebut. Aku bukannlah seorang terlahir di darah musisi, malah kebanyakan keluarga dari darah seni lebih ke seni visual entah itu lukis, sketsa, atau desain yang termasuk aku sendiri. Tapi nggak ada yang salah dengan cita-cita manggung di panggung gede walaupun bukan tampil sebagai musisi profesional. Ya kenapa nggak? manggung aja dulu, dilemparin botol belakangan.

Barangkali kalian kenal Chiki Fawzi, beliau adalah anak dari legend pertelevisian Indonesia yaitu Ikang Fawzi. Di jaman kuliah beliau merupakan salah satu orang yang aku pandang sebagai panutan, yups dia pernah menjadi salah satu animator dari serial anak Upin-Ipin. Aku respect beliau sebagai sesama seniman visual. Tapi siapa yang nyangka kalau beliau sangat berbakat juga dibidang musik yang membuat aku sadar kalo seni itu universal. 

Jadi atas hal tersebut aku memberanikan diri untuk satu demi satu mengupload video cover di instagram, buat kalian yang pengen melihat beruang kutub bisa nyanyi bisa lihat di highlight instagram aku @dailydimzy. Silahkan hujat aja kalau kiranya mengganggu kalian, karena kalau tidak dihujat dia akan semakin nekat bikin cover-cover lainnya. Aku pengen sih menjadi duta buat orang-orang yang malu untuk mengekspresikan diri mereka. Gapapa lagi untuk tidak sempurna, menjadi unik cukup seru juga kok.

Kita udah menjadi saksi seorang Mawang, Udin Sedunia, Aldy Taher yang berani mengekpresikan musik menjadi sesuatu yang unik. Ekspresi orang yang denger juga unik-unik, emosi juga salah satu bentuk ekspresi kan ya? becanda. 

Btw, tembang favoritmu apa? Sini aku nyanyiin.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Jadi seorang milenials di era gen-z udah pada gede kadang membuat kita dituakan secara paksa. Iya oke, umur aku di tahun ini udah 26, umur yang udah semestinya di posisi jadi leader bagi adek-adek yang di lingkungan kerja atau kalau bagi sebagian orang yang masih kuliah di umur segitu dipanggil 'sepuh". Umur yang seharusnya udah pada nikah karena udah nyadar kalau dirinya mampu buat tanggung jawab, walaupun ada juga yang masih sendirian karena emang belum laku atau udah hopeless. Buat stasiun TV kalo ada yang mau ngadain lagi acara Take Me Out Indonesia boleh banget nih, membantu warga-warga hopeless asmara.

Wait, kok malah ngelebar kemana-mana. Oke lanjut ke topik.

Kadang nggak nyadar kalau diri sendiri udah sedewasa ini, perasaan baru kemarin main kakak adekan sama kakak kelas sekolahan, eh sekarang udah dipanggil 'om" aja sama bocil. Ke mini market niatnya mau pdkt sama kasir malah dipanggil 'pak". Kesal, belum mulai udah ngenes duluan.

Padahal kalau mau berkaca ke diri sendiri, aku sendiri bingung tentang apa sih contoh yang tepat buat jadi abang-abangan yang baik. Pertanyaan ini bukan karena pengen dibilang sok tua atau gimana, tapi ngaruh banget ke social life karena ya sosok abang-abangan ini bukan pilihan tapi memang akan ada waktunya kita ditempatkan di posisi tersebut. Aku anak pertama dari 2 bersaudara, otomatis layaknya kakak pada umumnya kita lah yang dijadikan contoh buat adek kita. Di rumah sebenernya nggak ada masalah tentang bagaimana aku bersikap seperti abang, tapi abang-abangan ini beda, abang-abangan adalah di mana kita menjadi sosok kakak buat orang lain. 

Kalian pernah nggak sih ketika nongkrong, ada di antara satu dari kalian yang gap umurnya tuh jauh banget, udah kayak om sama ponakan tapi tuh kalian satu tongkrongan. Kebetulan sih dulu waktu sekolah aku pernah nongkrong sama sosok abang-abangan ini. Satu hal yang bikin aku amazed sama beliau adalah beliau ini benar-benar sosok yang ngemong tapi tetep asik. Aku nggak nyebut nama aslinya tapi panggil aja namanya bang Messi, beliau adalah salah satu senior aku di suatu komunitas yang dulu aku ikutin waktu sekolah. Aku biasa bertemu dengan beliau sore hari di sela kegiatan komunitas. Di antara tongkrongan kami yang rata-rata anak sekolah semua, beliau ini lah satu di antara senior lain yang biasa jadi mentor kegiatan komunitas. Beda dengan abang-abangan kampus sok senior dan otoriter, beliau ini mampu memposisikan dirinya setara dengan kita-kita yang anak sekolahan ini, hasilnya ya obrolan kita relate-relate aja. Ngobrolin kenakalan nyambung, ngobrolin asmara nyambung, ngobrolin konspirasi sekte penyembah hamster nyambung.

Dengan beliau ini lah aku mempelajari gimana sih jadi sosok abang-abangan. Aku mempelajari gimana kita berteman layaknya temen sepantaran, belajar gimana cara memberi insight tanpa menggurui, dan jadi tempat yang asik buat orang-orang bisa curhat. Tapi apakah penerapannya bisa semudah itu? Ohoho tentu... tidak.

Sejak aku SMP sampai SMA di tongkrongan aku bukanlah sosok abang-abangan. Karena ya nggak pernah ada satu momen aku di tempatkan di posisi tersebut. Aku nggak pernah jadi anggota OSIS yang bisa ngospek adek kelas baru dan dapet nomer hp cewek cakep, nggak pernah jadi ketua sebuah ekstrakulikuler, nggak pernah jadi tempat curhat adek kelas dan berlanjut ke PDKT. Jadi ya definisi abang-abangan aku nggak pernah paham harusnya seperti apa.

Hal tersebut berubah di lingkungan kampus. Keputusan buat ikut BEM ternyata mau nggak mau merubah diri ini yang tadinya pasif jadi sok sokan aktif dan suka ngebantu adek tingkat. Lumayan satu hari ospek kampus dapet nomor hp cewek-cewek cakep.

Nggak ding canda.

Jadi sosok yang tiba-tiba jadi abang-abangan sebenernya aku sendiri nggak siap, aku bukan tipe yang niat kalau disuruh ngasih masukan as we know about something. Jadi ya suka ngelemparin ke temen kalau misal ada adek kelas yang nanya sesuatu.

Contoh :
Adek kelas : 'Bang, ini aku ada desain poster buat kegiatan ekstrakulikuler. Kita-kira udah bagus belum ya"

Aku : 'Eeee.. tanya bang Danu aja ya"

Adek kelas : 'Oh tapi bang Danunya udah pulang bang"

Aku : 'Nih alamanya, kamu susul deh dia" sambil ngasih lokasi Google Map.

Ada nggak sih kalian yang ngerasa gitu juga? Kayak nggak mau repot aja buat berbuat baik sama adek kelas. 

Tapi semakin hari setiap kali aku ditempatian di posisi tersebut, pada akhirnya aku paham asiknya jadi abang-abangan. Sebenernya abang-abangan itu tidak selalu kita menjadi seorang panutan buat orang lain, tidak selalu harus kita ngasih insight-insight buat orang lain. Tapi lewat kita menjadi berguna buat orang lain sebenernya kita udah membuka pintu pertemanan baru. Dan juga semakin tau arti abang-abangan aku pun tidak lagi menganggap adek kelas atau adek tingkat sebagai junior tapi sebagai teman aja. Kayak bang Messi yang sempet aku singgung di atas, aku bisa nyaman buat menganggap beliau panutan justru karena beliau tidak pernah menganggap dirinya panutan. Aneh ngga sih. Ya begitulah kira-kira deh.

Sampai ketemu di curhatan yang lain guys.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


   Kejenuhan pekerjaan pada beberapa hari lalu seperti tak biasa diubah oleh pengalaman tak ternilai, ya.. hari itu aku bikin orang tua client aku menangis. Oke, sebelum kalian mikir aku tukang bully, aku mau jelasin sebentar. Aku yang di semester akhir perkuliahan bekerja sebagai fotografer pada beberapa hari lalu kedatangan oleh client wisuda yang membawa rombongannya. Cukup banyak, ada orang tua client tersebut, ada adiknya, ada anggota sepuh seperti nenek, ada pak RT, ada pak lurah. Canda ding, cuma sampai nenek doang kok.

   Prosesi pemotretan berjalan seperti biasa, hingga pada pertengahan prosesi foto si nenek menangis. Bukan sepenuhnya gara-gara aku motret si nenek jadi menangis, bukan. Ya aku akuin waktu itu emang muka aku lagi baru bangun tidur, tapi waktu itu masih bisa dibilang friendly untuk bisa membuat nenek menangis rasanya tidak mungkin. Belakangan diketahui nenek menangis dikarenakan ada cucunya yang tidak ikut karena sudah berpulang ke Tuhan. Sebagai fotografer yang agak profesional aku mencoba buat menghibur dengan jokes receh ala mas-mas biasa. Niat membuat si nenek ketawa pun sukses dengan bonus keluarga juga ketawa. Ya, asal bisa membuat orang terhibur gapapa saya jadi king of receh mah gapapa. Ekspresi kebahagiaan dari nenek kembali dutunjukan oleh kalimat 'wah mas, makasih banget. rasanya bahagia sekali, untung aku tadi ikut keluarga ke sini" tutur si nenek. 1 Kalimat yang membuat aku sadar, kebahagiaan bisa hadir dari momen apapun. Kadang di usia yang sudah menua, kebahagiaan tidak bisa dibeli oleh uang atau harta. Bertemu dan bercanda tawa dengan keluarga sendiri adalah kebahagiaan itu sendiri. Benar, kebahagiaan memang sesederhana itu.

   Sesederhana itu, tapi kadang untuk mengetahui apa yang membuat kita bahagia juga tidak semudah itu. Lewat nonton film 'story of kale" -nya mas Angga Dwimas Sasongko, dipertontonkan kalau kita ngga bisa membuat orang lain menciptakan kebahagiaan untuk kita, kitalah yang menciptakan kebahagiaan itu sendiri. Ya hal tersebut emang bener sih. Bayangkan dalam sebuah hubungan pacaran, misal si cewek ingin cowoknya setampan dan se-ambisius Nam Do-san (karakter drama korea Start-Up) dikarenakan dengan si cowoknya semirip bintang Korea maka si cewek bakal bahagia. Padahal cowoknya mas mas Jawa yang karakternya beda jauh dengan cowok Korea. Maka apa yang terjadi? Si cewek mungkin kecewa dan mungkin juga nanti timbul pertengkaran-pertengkaran yang disebabkan oleh perbedaan keinginan oleh 2 individu kepada pasangannya. Menginginkan kebahagiaan yang diciptakan oleh orang lain kepada kita memang akan membuat seakan-akan kebahagiaan itu rumit.

   Maka seperti kata film 'story of kale" kebahagiaan itu kita sendiri yang ciptain.
Salah satu usaha aku buat ngeciptain kebahagiaan itu adalah dengan punya cita-cita, kenapa? Karena dengan kita meng-achieve cita-cita tersebut maka bahagia akan menyertainya. Kayak main game, kita bakal bahagia kalau kita udah sampai tahap gamenya tamat, karena usaha kita buat namatin game tersebut ngga sia-sia. Dari semenjak kecil bisa dibilang ngga ada satu cita-cita aku yang konsisten. Aku ngga ingat cita-citaku apa sewaktu ditanya guru TK, tapi yang pasti cita-cita aku waktu SD adalah jadi ninja. Oke ngga realistis, skip. 

   Gonta-ganti cita-cita sangat sering terjadi seiring labilnya usia yang masih bocah. Hal yang pasti setiap cita-cita yang diharap terwujud dan berakhir bahagia malah berakhir dengan patah hati karena dalam perjalanannya selalu ada saja penghalangnya. Seperti saat SD pengen jadi pemain bola tidak berlanjut dikarenakan ngga punya sepatu bola dan ngga punya skill yang berprospek sebagai pemain bola, dan yang paling penting ngga punya muka setampan David Beckam, alhasil kalau dipaksakan jadi pemain bola endingnya akan pensiun dini. Waktu SMP pengen banget jadi anak band dikarenakan kalau jadi anak band kayaknya gampang banget dapet pacar cakep-cakep, setidaknya itu yang tercermin dari Andika Kangenband. Nampaknya hal tersebut juga sulit tercapai karena ngga punya alat musik dan ngga punya teman buat ngeBand. Rata-rata SMP aku waktu itu cuman temen game online bareng. Andai aja kalau hype Esport udah ada sejak dulu aku udah bikin team Esport. Sayangnya alih-alih berprestasi di game online yang ada kena omel bapak gara-gara nilai jeblok semua. Mungkin kalau SMP dulu, bapak aku kasih katalog pacar-pacar game online aku waktu itu beliau akan bangga dan bilang 'bapak bangga sama kamu nak, kecil-kecil udah pakboy (a.k.a playboy)".

   Kegagalan-kegagalan semasa kecil dalam meraih cita-cita membuat diri terasa terbiasa dengan patah hati. Jadi dalam menjalin hubungan pun tiap mendengar kata putus udah kayak yang 'oh, yaudah". Bukan karena ngga peduli, tapi tiap kegagalan demi kegagalan akan selalu membawa pendewasaan bagi seseorang. Kita akan tau akan harus berbuat seperti apa bila kegagalan itu tiba. Karena kembali lagi ke film 'story of kale" kebahagiaan itu bukan orang lain ciptain ke kita tapi kita yang ciptain. 

   Semasa kecil mungkin gagal jadi pemain bola akan membawa kekosongan panjang pada saat itu dan jadi galau pertama aku, karena untuk pertama kalinya aku punya cita-cita yang aku ngebet banget hal itu terwujud tapi tak terwujud. Ngerasain putus untuk pertama kali juga bakal jadi galau yang mendalam karena punya pacar pertama adalah momen saat kita benar-benar naif soal hubungan percintaan, kita belum benar-benar mau merasakan putus dan ngga bakal nyangka kalau hari itu akan terjadi. Patah hati demi patah hati entah dikarenakan gagal dalam hal apapun akan selalu membuat kita tau akan bersikap seperti apa. Memandang kebahagiaanpun akan lebih sederhana. Sesederhana ketika dulu gagal jadi pemain bola saat SD, setidaknya aku masih bisa main bola bareng temen-temen, ketawa-ketawa bareng, main seharian penuh melupakan PR yang bikin pusing. 

   Sesederhan saat gagal jadi pemain band saat SMP, setidaknya karena keinginan tersebut aku jadi ngulik banget musik-musik yang lagi ngetren, ngumpulin refrensi-refrensi musik buat dinyanyiin bersama di kelas bareng temen-temen dan ketawa bareng saat ada yang salah lirik. Sesederhana ketika galau habis putus cinta masih ada keluarga yang selalu ada, diperhatiin oleh ibu yang ketika kita tidur diam-diam menyelimuti kita walaupun beliau tau kita sedih tapi ngga tau sedih karena apa beliau akan selalu ada. Kadang jatuh cinta dan putus cinta dengan orang lain membuat kita lupa kalau di dunia masih ada orang yang sayang banget sama kita. Mereka (keluarga) mungkin ngga tau bahagianya kita saat kita baru jadian dengan orang yang kita suka tapi mereka tau saat kita sedih mereka harus apa tanpa kita pinta mereka akan ada. Sesedehana itu kadang sudah bikin kita bahagia.

   Bahagia emang sesederhana itu.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About Me

About Me
Seorang Visual Designer yang menyukai hal komedi, baik berupa tulisan atau media fisik seperti film atau pun pertunjukan komedi. Seseorang yang suka bercerita tapi nggak ada yang bener ceritanya, contohnya ya blog ini nih.

Follow Me On

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

recent posts

Blog Archive

  • September 2025 (1)
  • April 2025 (1)
  • Maret 2025 (1)
  • Agustus 2024 (1)
  • Juli 2024 (1)
  • Mei 2024 (1)
  • Februari 2024 (1)
  • Desember 2023 (1)
  • Agustus 2022 (1)
  • Mei 2021 (1)
  • Maret 2020 (1)
  • Oktober 2019 (1)
  • Maret 2018 (1)
  • November 2017 (1)
  • Maret 2017 (1)
  • September 2016 (2)
  • Januari 2016 (1)
  • Agustus 2015 (1)
  • Oktober 2014 (1)
  • Juli 2014 (1)
  • April 2014 (2)
  • Maret 2014 (1)
  • Agustus 2013 (1)
  • Juni 2013 (1)
  • Mei 2013 (3)
  • April 2013 (3)
  • Maret 2013 (4)
  • Februari 2013 (3)

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates